Friday, January 16, 2009

Cermin Pendidikan Di Indonesia


Dari hari ke hari kaum miskin makin kehilangan hak-haknya yang telah dirampas oleh pembangunan yang tunduk pada pasar. Kian hari jumlah orang miskin kian bertambah, sedangkan kekuasaan makin menjauh dari mereka.
Semenjak neoliberalisme menjadi program utama yang dianut bangsa ini, sejak itu juga orang miskin semakin sulit untuk menikmati pendidikan, pelayanan kesehatan,tempat tinggal yang memadai, dan pekerjaan yang layak. Neoliberalisme sebagai ideologi dunia seolah meluluhlantakkan pertahanan orang miskin untuk berpendidikan.
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pendidikan model pasar telah menjadi mesin produksi yang harus bekerja terus menerusdengan logika "efektivitas dan efesiensi" untuk menciptakan "generasi intelektual instan" yang serba seragam, termasuk seragam dalam cara pemikirannya. Model pendidikan seperti ini kemudian mengenyampingkan sebuah proses pendidikan yang didalamnya terdapat titik-titik pencerahan dan pembebasan manusia dari ketengkukungan. Hasil proses pendidikan dengan logika efektivitas dan efesiensi itu adalah hadirnya para koruptor dan munculnya manusia berwatak kasar.
Perlu ditanyakan kemudian adalah komitmen pemerintah mengenai kebijakan dibidang pendidikan. Selama ini sangat terasa janggal dimana subsidi pendidikan lebih kecil dari subsidi militer. Hal ini menjadi bukti bahwa pemerintah lebih bangga dan senang dengan kekerasan dari pada kecerdasan warga negaranya melalui pendidikan.
Sekedar perbandingan saja, kalau kita menengok kebijakan pemerintah Republik rakyat Cina (RCC), misalnya disana pemerintahnya mampu membiayai 5.000-10.000 mahasiswa untuk belajar ke eropa. Hal ini sama seperti yang dilakukan Perdana Menteri Malaysia yang tiap tahunnya mengirin 50.000 calon dokter, antara lain ke Inggris dan Amerika. " Jumlah seperti itu dibiayai semuanya oleh pemerintah, karena pemerintah di 2 negara ini "Melek Pengetahuan".
Di negara ini kondisinya malah kebalikannya. Hingga saat ini hanya mereka yang berkantong tebal yang mampu menikmati pendidikan bermutu di Luar negeri. karena mereka harus mengeluarkan biaya sendiri untuk biaya pendidikan di negeri orang, maka sepulangnya ke Tanah Air para ilmuwan itu berusaha untuk "mengembalikan modal" dengan berbagai cara. Korupsi kemudian menjadi hal yang tidak luput dari perilaku mereka. dan kasus korupsi di negeri ini justru dilakukan oleh para intelektual dan akademisi di negeri ini.

No comments: